Pengakuanku

Keikhlasanku diuji kini. Sudah ikhlaskah aku membersihkan segala hal tentangnya? Ia mengujiku bukan dengan membuatku patah. Tapi justru memberikan penyangga baru. Yang siap menyanggaku.

Teka-teki apa lagi yang harus kupecahkan?

Aku belum siap sepenuhnya. Aku sadar, aku belum bersih benar. Setiap pertimbanganku, pasti ada namanya yang entah kenapa selalu muncul menghalangi. Aku ingin membuka hati, membersihkan diri, bukan memendam atau menguburnya, yang sewaktu-waktu tanah yang menutupinya akan mengikis, terkikis, dan muncul kembali ke permukaan. Muncul di waktu tak terduga.

Mungkin ini adalah salah satu waktu dimana ia muncul kembali. Aku masih belum bersih. Pengakuanku, ia masih bertahan disini. Tidak, aku yang menahannya. Aku yang membuatnya tetap tinggal. Walaupun aku tau, ia telah menempati ruang baru yang lebih memenuhi hatinya.

Ruang apa itu aku tidak ingin tahu.

Biarkan ia tetap terjaga disini. Menyingkirkan segala pejantan. Aku meng-kambinghitamkan-mu, tanpa ingin membuat kita bersatu. Tanpa tau, apakah kamu memanfaatkanku pula? Walau kau tau, aku selalu bersedia dikambinghitamkan. Olehmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s