Cerdas dan Tidak

Ada sedikit rasa menyesal, ketika melihat seseorang cerdas dengan mudahnya. Anugrah Tuhan yang membuatnya dengan sendirinya cepat menyerap segala hal yang dia ketahui. Sesalku sedikit pada keadilan Tuhan. Awalnya ini terasa tidak terlalu mengganggu. Tidak begitu aku risaukan. Hingga aku dihadapkan dengan kenyataan. Bahwa kecerdasan itu mengalahkan kerajinan. Mengalahkan kepintaran. Orang cerdas itu diatas segalanya. Kaum papa seperti aku ini terkadang ingin mengangkat intelektual diri, namun selalu lemah di daya tangkap dan daya ingat. Apa memang dunia ini hanya akan dikuasai oleh mereka yang cerdas? Mereka yang berani menentang aturan kaku? Aku yang selalu berusaha ‘lurus’ melakukan apapun, merasa gagal dan salah. Dan kalah. Sekuat apapun dayaku untuk menjadi cerdas, aku tidak akan pernah mampu. Hanya mereka yang cerdas yang berkesempatan berada di atas sana. Berkilau. Walaupun terliaht menunduk, merendah, menyepelekan, berbuat di luar aturan. Rajin itu hanyalah usaha untuk berpindah strata, bukan untuk menjadi pemimpin kasta. Apakah kecerdasan itu bisa dipelajari dan bisa berkembang dengan rajin? Entahlah, rasanya masih sulit untuk menerima sistem yang berbeda ini.

Aku hidup dalam bayang-bayang aturan kaku. Sementara mereka menyebut itu mainstream lah, sok lurus lah, sok bener lah. Padahal jika mereka mau memahami, kaum seperti aku ini hanya ingin menjadi baik dengan cara yang telah ada. Kami ini adalah produk dari mesin sistem pendidikan disini. Sejujurnya, kami iri dengan kalian yang tanpa rajin pun kalian tetap ada di strata teratas. Tanpa rajin pun ilmu akan terserap lebih cepat. Tanpa rajin pun, kalian bisa memakai ilmu kalian lebih luwes dan praktis. Kami harus berusaha lebih giat untuk duduk di paling depan, untuk mencatat hal yang kalian bilang tidak penting namun menjadi berharga untuk menjaga ingatan kami, untuk terlihat bermanfaat dengan mengikuti berbagai organisasi yang bagi kalian hanya membuang waktu, untuk mengerjakan tugas secepatnya di awal.

Jangan anggap kami kaku, kami hanya tidak tahu lagi bagaimana caranya. Kalian yang memang dari sananya sudah cerdas, jangan sepelekan kami. Jangan pula mengajak kami berdiskusi hanya untuk membuktikan bahwa kalian lah yang pasti akan selalu menang. Kami sudah tahu. Kami sudah sadar diri.

Aku takut ini akan membunuhku pelan-pelan.

Rasa hina ini menjalar ke seluruh tubuhku. Perasaan serba salah ini menghantui setiap gerak langkahku. Setiap gerak langkah, Setiap gerak langkah. Aku menjadi orang yang senggol-jatuh tiba-tiba. Menyenggoljatuhkan diriku sendiri. Bukan oleh siapa-siapa. Tapi dari aku sendiri. Aku.

Hingga nanti tubuh ini hanya tinggal dibaluti rasa mati dan sok-ada.

 

 

Kamar, 27 Mei 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s