Kesukaan

Semua orang punya sesuatu yang disukainya. Pasti itu. Ada kecenderungan buat mereka milih apa yang mereka rasakan jiwanya bergairah ketika ada di dekat yang disukai. Gimana ya. Tapi kok rasanya kecenderungan itu seperti terstratakan ya. Seperti ada rentang vertikalnya. Sehingga semua yang disuka terlihat berkasta. Mereka yang suka dengan musik klasik terlihat lebih elegan dan cantik dibandingkan dangdut campur sari. Mereka yang suka ilmu fisika dan kesehatan terlihat lebih intelek dibandingkan ilmu sosial. Mereka yang aktif bermain kata terlihat lebih konkrit dibandingkan mereka yang bergerak tanpa suara.

Padahal ini kan cuma kesukaan.

Aku suka saat aku berkelana dalam pikiranku sendiri, dan kamu suka saat kamu mengumbarnya. Aku suka saat aku tidak peduli dengan tv, sementara kamu suka berita politik secara visual. Itu kan masalah suka gak suka. Apa kamu merasa lebih baik dengan memberikan kritik? Ya sudah silahkan. Apa kritikmu itu bukti bahwa kamu lebih baik karena kamu bisa menilai orang lain, sementara aku tidak? Apa karena aku menahan diri supaya tidak ada salah ucap, supaya tidak ada yang tersakiti, itu membuktikan bahwa aku lemah?

Mungkin iya.

Intinya, aku suka apa yang aku suka. Selesai kan?

Masalahnya, kamu pun suka apa yang kamu suka. Apa ini bisa beriringan?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s