Denial

Terkadang, merasa lucu dengan perasaan macam ini. Denial. 

Kalok dalam Oxford Dictionary punya winda, artinya (1) statement that sth is not true, (2) refusal to allow sb to have sth they have a right to expect. Kalo versi gue, ini artinya penolakan. Gimanapun cara kalian merespon sesuatu yang kalian ga suka, dengan menolak. Entah dengan terang-terangan bersikap, berbicara, sampe gerak non verbal, atau via tulisan. Penolakan paling awal pasti datengnya dari… hati. Hati, jadi tempat terbaik buat kita bisa mengetahui, apakah ini patut kita terima, atau patut kita tolak. Suara hati, cuma bisa didenger sama mereka yang rajin ‘mengasah’ nurani, misalnya ngelatih kepekaan, insting, atau respek, dan harus ada orang lain yang kita jadiin objek pengujian reliabilitas dan validitas ketepatan si hati memilih. Nggak bisa kita sendirian, kudu ada orang lain. Alangkah lebih bagusnya lagi kalo kita ada di kondisi itu. Ah, tapi orang sibuk macam kami nih mana sempat ikut berempati.

Intinya, gue mengalami denial yang sangat akut. Sampe rasanya gue gak ada feeling lagi. Semua terlalu melibatkan logika yang akhirnya fungsi hati terabaikan, termakan kuatnya tarikan logis. Dan ternyata, bukan cuma gue yang mengalami hal yang sama. Hampir semua anak jurusan gue, jurusan kesejahteraan sosial, merasakan hal yang sama. Bosan.

Maksudnya?

Kami sering diberitahu, bahwa senjata kami adalah komunikasi. Senjata kami adalah empati. Adalah berdayakan. Sejahtera! Tapi, mungkin, karena kami terlalu sering diberikan teori tentang memakai ‘senjata-senjata’ tersebut, dan kami tahu ‘rahasia-rahasia’ para orang yang harusnya kami empatikan itu yang disebut beneficiaries, kami juga dituntut mengaplikasikan teori kami dalam kerangka penilaian wajib yang terkadang menjadi sekedar penuntasan kelulusan, kami menjadi malas menafaskan perasaan, mengakalkan kejernihan, menyikapkan keikhlasan. Terasa sekali.

Misalnya ada pengemis di jalanan, gue enggan memberikan. Ya jelas, mereka toh gak boleh di bikin nyaman sama pekerjaan menghamba belas itu. Pengamen juga, ngapain? Apalagi di Depok ada perdanya, larangan buat ngasih uang ke anak peminta-minta. Entah jadi penjual tissue, pengamen, jasa ojek payung, atau sekedar pengemis. Udah ah diemin. Toh untuk kebaikan mereka di masa depan.

Sampai pada satu titik ngerasa, terus kapan geraknya? Terlalu banyak mikir. Oke mungkin mau ngasih solusi yang lebih kongkrit lagi, trus mau nunggu berapa tahun lagi lau bakal jadi orang yang bisa mengaspirasikan suara mereka? Menuntaskan hak mereka? Memberikan kelayakan bagi mereka? Itu cita-cita lo kan? Tapi… Sambil kesana, lo bisa berbuat apa? Ngediemin?

Pikiran ini mungkin gak akan timbul, sampe akhirnya gue ngerasa jadi orang angkuh. Orang yang cuek sama sekitar. Sementara orang lain gak pake mikir buat bantuin orang lain. Mbak-mbak yang abis kerja di mall, seenak itu ngasih uang ke adek yang katanya belum makan. Bahkan seorang sopir angkot seenak itu nasehatin anak kecil yang abis ngamen tumpangan ‘ati-ati dek. jangan lompat. jangan minggir.’ Atau anak mahasiswa yang ngajak makan anak penjual tissue sekitar kampus. Gue, udah apa?

Betul. Gue ngerasain banget rasa ini. Mungkin emang gue yang terlalu dibawa perasaan.

Dan gue bersyukur, sempet ikut kegiatan sosial yang gak sekedar cuma ikut. Tapi tinggal bareng mereka. Sedikit menjadi pelumas buat rasa kebal perasaan yang unintended ini.

Mungkin, gue harus lebih banyak ngantongin beng-beng. Camilan. Atau nasi bungkus siap bagi. Atau seenggaknya, kasih senyum. Perhatiin kalo mereka itu ada. Disana. Sebagai manusia yang tidak pernah ingin nasibnya sama. Mengobati rasa penolakan ini, secara lebih solutif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s