#kandas

Ngilu. Aku butuh koyo hati. Sekarang!

Malam ini menjadi sebuah penolakan kedua setelah kemarin. Penolakan atas keputusan yang didasari oleh keprofesionalan sebuah lembaga. Penolakan atas hukuman yang tengah aku dapatkan, sebagai anggota kepanitiaan, yang berkewajiban sebagai pendidik yang sedang lengket-lengketnya dengan anak-anaknya.

Ngilu dan nyeri di dada saat membayangkan aku tak boleh lagi mengajar disana. Untuk mengakhiri apa yang telah ku mulai. Untuk memberian kepastian pada anak-anakku disana. Padahal aku yang mengajari mereka untuk menepati janji, untuk berbicara jujur, untuk tidak berbuat jahat pada temannya. Sementara aku melakukan itu semua kepada mereka. Aku ini apa?


Sejak awal masuk kuliah, aku tertarik mengikuti banyak organisasi dan kepanitiaan di kampus ini. Menjadi anak BEM, anak lembaga ini, lembaga itu, jabatan ini, itu, ah keren sekali. Pasti bakal menambah pengalamanku seputar dunia organisasi. Maklum aku memang hobi pulang malam sejak SMP untuk mengikuti kegiatan di luar kegiatan wajib. Ada perasaan cepat bosan yang harus dipenuhi kebutuhannya, dan itu aku temukan di kegiatan ekstra.

Namun, ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Menjadi anggota organisasi dan kepanitiaan2 besar tidak mudah. Banyak ini itunya, pulang wajib banget malem bahkan katanya rapat sampe pagi, hal-hal yang tidak pernah aku bayangkan akan sesibuk itu. aku merasa tidak akan sanggup, jadi aku memilih fokus kuliah dan membantu orangtua di rumah. Aku sempat mengikuti berbagai organisasi dan kepanitiaan, namun akhirnya aku memilih tidak meneruskan hal tersebut.

Kali ini, promosi media dari acara tersebut menyurup batinku. Gerakan UI Mengajar angkatan 3. Selama sebulan berada di sebuah desa dan menjadi pendidik disana. Pikiranku langsung membayangkan keyakinan –atau kesombongan- Lalu aku menchallenge diriku untuk mendobrak zona nyaman itu. aku akan daftar dan mengikuti proses seleksi hingga akhir, apapun hasilnya. Dan secara sadar dan sabar, satu persatu tahapan aku lewat, hingga aku berhasil menjadi yang terpilih. Satu diantara beberapa manusia yang mendaftar. Mungkin ini acara atau kompetisi pertama yang aku ikuti selama di kampus. Awal adaptasi aku merasa kesulitan membaur. Bahasa mereka kadang tidak kupahami. Aku sebagai manusia awam nan bodoh menyingkir pelan-pelan. Beberapa dari mereka yang perhatian, menanyakan kepadaku kenapa aku pendiam. Jawabanku sejujurnya adalah, ketika aku berusaha masuk aku tidak paham. Dan sulit rasanya menjadi sok kenal dengan kalian. Perasaan itu masih hinggap di otak kotorku hingga kami sampai di titik kami, titik 5 Desa Cemara Kulon. Di titik itu, perasaan aneh secara cepat berganti dengan rasa memiliki dan sepenanggungan. Apalagi terhadap sesama pengajar. Kepada panitia aku merasakan hal yang sama. Senang rasanya dengan mereka.

Hingga musibah itu datang. Ujian dari Allah atas ikatan kami.

‘kita pulang, ya?’

‘iya.’

Dengan pertimbangan itu, kami pulang.

Beberapa media ajar sengaja aku tinggalkan. Nanti ketika aku kembali aku bisa menyampaikan apa yang seharusnya aku sampaikan. Aku benar-benar merasa pergiku hanya untuk kembali. Bukan pulang. Aku akan kembali.

Dua hari setelah di depok, kami mengadakan rapat antara pengajar dan ED di perpus pusat. Saat itu kami merasa sangat merindukan anak-anak, dan melihat wajah pengajar lain sambil bercerita tentang perasaan selama disana, mengobati rasa ke-tidak-tahan-an-ku- untuk kembali. Saat rapat kami membuat 3 plan, yaitu plan A dengan asumsi air sudah surut dan sekolah sudah bisa dipakai hari senin. Plan B, air belum surut dan sudah ada posko sehingga kami tetap menjalankan kewajiban di GUIM. Plan C, jika air belum surut dan belum ada posko.

Tapi saat rapat sedang berlangsung, tiba-tiba sang ketua menghubungi kami satu-persatu. Kami dicabut izin mengajarnya. Suasana menyenangkan langsung berubah secepat itu, menjadi menegangkan. Nothing else can we do. keputusan sudh bulat. UPTD sudah tahu semua.

Saat itu beberapa menangis. Teguh datang dengan air muka tidak enak. Aku masih belum merasa apa-apa. Ketika dirumah, aku baru sadar bahwa ini keputusan yang sangat menyakitkan. Aku merasa menjadi guru terphp. Banyak hal yang harus diakhiri ketika aku memulainya, khususnya di SDN Cemara Kulon kelas 6.

Hingga saat ini, rasa sakit itu masih menjalar. Aku merasa dia akan menjadi benalu seumur hidupku.

Entah kesalahan kami dianggap sebesar apa sehingga setega itu menukar setitik kesalahan kami dengan lautan pengorbanan kami, panitia khususnya.

Apa yang lebih menyakitkan bagi seorang ibu selain dari dipisahkan dari anaknya?
Apa yang lebih menyakitkan bagi sebuah pohon selain dari buah yang dipetik sebelum waktunya?
Apa yang menyakitkan bagi seorang guru selain dari dipisahkan dari anak muridnya?

Dan kini, harapan itu kandas..

bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s