#cerita 2

Saya baru merasakan betapa lelahnya menjadi seorang guru. Guru yang dituntut untuk menggunakan metode kreatif setiap harinya. Apalagi guru SD. Dia mau tidak mau harus menjadi guru multitalented, karena hampir lebih dari separuh mata pelajaran dia yang menanggung. Luar biasa. Saya sulit menyalahkan guru, jika mereka mengajar dengan metode yang old-fashion alias konservatis alias jadul. Ya, seperti itu. mereka juga punya kehidupannya sendiri karena sudah berkeluarga. Kalau sudah begini, semua pihak sebaiknya memaksimalkan peran mereka. Menurut saya.

Saya merasakan hal itu. Saya lelah dengan semuanya. Rasanya ingin menyerah. Pagi-pagi jam 7 saya harus sudah mengajar hingga jam 12 siang. Lalu pulang untuk makan dan istirahat. Jam 13.30 evaluasi hingga ashar. Jam 16.00 mengajar tambahan kelas hingga jam 17.00 bahkan lebih. Lalu malamnya jam 19.00an, anak-anak datang kerumah saya untuk entah itu belajar maupun bermain. Hal itu terjadi setiap hari dan saya merasa energi saya terkuras. Saya lelah. Saya hampir saja demotivasi saat minggu pertama mengajar, sampai akhirnya ketika evaluasi pengajar yang rutin dilakukan setiap sehabis mengajar membuka pikiran saya. Mereka lah yang selalu membuat saya merasa tidak sendirian. Saya selalu merasa sayalah yang paling tidak kreatif dan tidak bisa menjadi guru yang baik dengan kesulitan-kesulitan tersebut. Ternyata saya tidak sendiri. Ketika saya sudah sampai pada puncak kelelahan itu, saya bertanya kepada Uma, pengajar kelas 1 SD. “Ma, gimana ya caranya biar gue bisa ningkatin rasa semangat ngajar gue? Gue mulai capek nih ma.” Lalu dia menjawab,”Gue juga capek cha. Tapi tiap capek gue selalu inget target gue disini. Gue harus bisa bikin anak-anak gue bisa baca sebelum gue pulang.” Pats! Saya terhentak. Target! Saya selama ini gak punya target! Keadaan pengetahuan anak-anak saya sangat minim. Bahkan perkalian saja mereka belum hafal betul. Belum lagi bahasa Indonesia. Bahasa Inggris, IPA, IPS, ah! Rasanya saya ingin mereka menguasai hal itu semua. Saya sadar, kalau saya terlalu banyak target. Target saya kurang spesifik.

Semangat saya makin bertambah setelah itu. Belum lagi hari Sabtu mereka menggambar kaos yang disponsori oleh Flac Indonesia, yaitu NGO bawahan KPK yang menyuarakan anti korupsi ke anak-anak. Ini hasil gambaran kaos mereka yang membuat saya terharu hingga saat ini.

Saya langsung memutuskan untuk berpikir jauh, jauh, jauh lebih dalam dari malam biasanya. Akhirnya setelah itu saya menganggap minggu pertama adalah minggu adaptasi dan observasi tentang kondisi anak-anak. Saya berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak lagi menyerah dan mudah lelah. Saya harus lebih bersemangat. Malam itu, sabtu malam menjadi titik tolak atas kelelahan saya atas diri saya sendiri selama seminggu disini. Ohiya, malam itu hujan terus mengguyur desa kami hingga pagi.

Lalu semua luntur akibat satu hari itu. Hari Minggu.

Saya kaget bukan kepalang ketika mendengar kabar dari pengajar lain, Mayang, pengajar kelas 4 SD, bahwa rumahnya sudah kebanjiran akibat hujan yang terus mengguyur sejak semalam hingga pagi. Air sudah masuk kerumahnya hingga semata kaki. Begitu pula dengan Anis, pengajar kelas 5 SD, dan Uma, pengajar kelas 1 SD. Saya terus berdoa semoga tidak masuk ke rumah saya dan keadaan menjadi normal kembali.

Tapi, doa saya belum dikabulkan Allah. Hujan terus menerus mengguyur Desa Cemara Kulon sehingga menyebabkan ketinggian air meningkat. Rumah saya yang terletak agak lebih tinggi mulai dimasuki air. Kami panik. Saya lalu berpikir tentang rumah panitia yang letaknya paling rendah, yaitu tepat di depan lapangan samping tambak ikan. Bagaimana dengan mereka? Akhirnya air benar-benar masuk. Namun ternyata minggu pagi hingga sore, hujan tidak lagi mengguyur desa kami. Saya dan pengajar lain sempat kumpul untuk sharing di rumah Fathia, pengajar kelas 3 SD yang rumahnya berada paling ujung dekat jembatan akses antara Cemara Kulon dengan kota dan paling aman dari banjir. Saya bernafas lega. Panitia beberapa saat kemudian mengungsi di rumah Fathia dengan membawa carrier mereka. Ada ayu, sovia, novia, nadhia. Sementara ryan dan teguh masih berada di rumah panitia dengan keadaan air banjir masuk rumah sampai sebetis untuk menjaga barang-barang seperti buku dll. Inisiatif mereka cepat sekali. Mereka sudah membungkus berkardus-kardus buku untuk disumbangkan ke perpustakaan sekolah dan peralatan lain dengan trashbag dari sebelum banjir. Rumah panitia sudah makin sulit ditinggali. Setelah itu, sorenya saya pulang dan di rumah saya air mulai surut. Rumah bisa dipakai jalan tanpa air sperti biasa. Saya sempat menyetrika baju ketika sore hari.

Adzan maghrib mulai berkumandang. Beriringan dengan itu, hujan kembali mengguyur daerah kami. Cemas dan khawatir terhadap teman-teman lain. Untung masih ada media untuk kami berkomunikasi satu sama lain untuk saling memberi informasi dan semangat, yaitu di grup chat. Malamnya saya tidur di kasur yang ditarik dari luar ke dalam kamar karena kasur saya terkena bocoran atap rumah yang sangat parah. Saya tidur dengan keadaan yang lebih nyaman dibandingkan ketiga teman yang lain. Namun hati saya benar-benar gelisah. Hujan terus mengguyur daerah kami. Saudara ibu yang berada beberapa rumah dekat ibu mengungsi di tempat kami. Rumahnya sudah banjir sebetis. Sementara itu hujan tidak berhenti menurunkan airnya semalaman itu.

Esoknya, rumah mulai terlihat nyatanya. Air perlahan masuk ke dalam rumah. Atas saran teman-teman lain, kami yang rumahnya masih belum parah dan belum masuk banjirnya mulai berpacking barang, bersiap-siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Benar saja, air masuk dan naik cepat sekali. Saya bingung dengan kondisi itu. Saya mengecek listrik takut ada yang terendam. Lalu siangnya ketika hujan mulai reda, Mayang datang kerumah untuk melihat kondisi saya dan mengabarkan kondisi dia. Kami lalu berjalan melihat dan merasakan banjir yang sangat nyata. Di jalan, air sudah sebetis saya. Saya paksakan diri ini supaya bisa merasakan hal ini dengn nyata. Kami kerumah Mayang yang tinggi air di dalam rumahnya mencapai lutut bawah saya. Dia bersiap-siap packing. Ternyata dia sudah mengungsi di rumah lantai 2 dekat rumahnya. Di desa ini, hanya 2 rumah yang memiliki 2 lantai. Rumah saya dan rumah tempat mengungsi mayang. Kami lalu ke sekolah. Hah sekolah sudah pasti diliburkan seminggu minimal. Keadaannya sangat kacau, khususnya kelas saya, kelas 4, dan 3. Air sudah masuk ke kelas bisa sampai 4cm diatas mata kaki. Saya berkecamuk disitu. Kenapa mesti kayak gini ya? Lama saya merenung, sampai akhirnya ryan dan teguh datang juga ke sekolah padahal kami tidak janjian. Lalu ke rumah Fathia untuk melihat keadaan panitia dan ngobrol sebentar lalu balik.

Keadaan makin tidak baik. Hujan makin tidak terbendung. Air terus naik. Lalu malam hari anis dan uma datang kerumah saya untuk mengungsi. Kami akhirnya pindah ke lantai 2 bersama ibu bapak, saudara ibu dan 2 anaknya, nenek, dan tidak lama kemudian banyak tetangga yang datang mengungsi. Sedih rasanya menjadi korban banjir. Terjebak di dalam tanpa bisa berbuat apa-apa menjadikan kami makin terdesak. Ibu tetap memasak dan membuatkan kami makanan. Kami sejujurnya makin tidak enak karena menurut kami bahan makanan itu bisa untuk disimpan atau digunakan untuk lain hal.

Kami merasa kehadiran kami menyusahkan sekali. Air terus meningkat. Tidak ada tanda-tanda akan surut. Begitu pula hujan yang semakin deras. Handphone saya mati karena tercebur. Listrik mati. Air tidak ada. Saya sudah 3 hari tidak mandi. Dari atas saya bisa melihat desa ini dikepung oleh air seluruhnya. Saya miris. Alhamdulillah ibu rumahnya lantai 2.. Ternyata begini rasanya menjadi korban banjir. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Bantuan belum datang dari manapun. Sejujurnya, saya merasa tidak apa-apa tidak mandi sampai seminggu pun, ataupun mandi dan apapun menggunakan air hujan, ataupun menahan buang air besar sampai seminggu lagi. Tapi teman-teman pengajar dan panitia lain yang keadaannya semakin terancam merasa sangat apa-apa kalau kita masih disitu. Keadaan rumah saya yang memiliki lantai 2, baju-baju saya yang baru saja dicuci dan disetrika sehingga stok baju bersih saya masih aman hingga seminggu ke depan, dan kondisi ibu yang masih memiliki bahan makanan yang cukup sehingga saya sebetulnya tidak perlu khawatir akan perut, membuat saya merasa aman. Namun, saya tidak boleh egois. Saya tidak berada di posisi teman-teman lain yang rumahnya terendam bahkan hingga pinggang dan mereka terpaksa terpisah dengan keluarga dan harus mengungsi di tempat lain. Rasanya pasti sangat tidak nyaman. Anis bahkan melihat warga-warga BAB dan BAK di air banjir begitu saja. Saya mencoba maklum, karena antara jamban dengan air lebih tinggi air. Jambanpun tidak mengaliri airnya dengan baik.

Sampai akhirnya sebuah keputusan diambil oleh panitia yang mengungsi.

Kami akan pergi ke Depok. Lalu pulang kembali ke Desa Cemara Kulon dengan keadaan fisik dan segalanya yang telah dipersiapkan untuk membantu mereka. Kami hanya akan menyusahkan mereka.

Berat sekali rasanya. Berat. Tapi, kami sendiri dalam keadaan tidak bisa berbuat apa-apa. Posisi kami juga sebagai korban disini. Kami bingung.

Akhirnya diputuskan kami akan kembali pada hari Rabu menggunakan kereta

Saya sedih. Sebagian menjerit. Sebagian ingin pulang.

Bismillah saja dengan segala keputusan bersama.

bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s