Rumah 13 Hari

Hhhhhhh

Helaan nafas panjangku lagi di angkot. Tamparan keras sore ini membuatku banyak menghela nafas. Mencoba menerima dan menyelami dalam diri.

Di pojok angkot kursi 4 yang masih ngetem, disitu tempat favoritku kalau sedang kacau begini. Sambil memandangi aktivitas orang diluar jendela pembatas dan berpikir liar sesukaku.

‘Apa bapak ini tidak punya anak?
Dimana anaknya?
Kenapa dia harus repot menarik becak di wajah yang serentan itu?
Bagaimana jika aku diposisinya?
Bagaimana jika nanti aku hanya sekedar bertahan hidup tanpa dicintai orang lain?’

Seliar itu pikiranku.

Lamunanku tak berhenti pada bapak itu saja. Sesosok bapak lain yang sedang menjual DVD dangdut memberhentikan pencarian alih fokusku. Namun, aku secara refleks melihat laki-laki di depanku yang ternyata tertangkap sedang curi-curi pandang melihatku.

Sampai tiba-tiba sesuatu bergetar.

Drrrrt drrrrt drrrrrrt

Oh, ponselku. Nomer yang tidak bernama. Segera aku angkat.

Halo? Assalamualaikum?

Hening.

Ribut. Grusak grusuk

Lalu bersuara,

Halo! Salam alaikum, cha!

Suara ini… Kental logat ini…

BAPAK! YA ALLAH, INI BAPAK!

Halo waalaikumsalam. Bapaaak! Eh iya bapak! Ya Allaaah.. Apa kabar pak?

Alhamdulillah, sehat cha. Icha gimana?

Saya sehat pak alhamdulillah.. Gimana pak, listrik udah nyala? Air? Makanan? Ada pak? Ibu gimana?

Udah nyala cha alhamdulillah. Itu ibu masih beres-beres. Udah surut cha. Gak masuk rumah lagi. Cha, sampe jam berapa kemaren?

Jam 9 malem paak. Ohiya pak, nanti insyaAllah saya kesana lagi hari Minggu. Gapapa kan pak saya main?

Ooh ya nggak papa dong cha. Ini, cha. Barang-barangnya banyak yang ketinggalan. Kamu nih. Kebiasaan nih si icha. Hahaha…

Eh, iya ya pak. Waduuuuuh maap pak biasa banget dah ni si ichanya..

Obrolan kami berlanjut terus dan makin hangat. Saat itu, angkot berasa hanya dihuni aku dan bapak di telpon sana. Gak peduli sama belasan mata yang memandang. Bapak telpon!

Hati yang terluka ini jadi sedikit terobati. Mendengar suara bapak. Mengetahui kabar ibuk. Kabar rumah.

Dan lagi-lagi aku harus menarik ucapanku. Aku tidak berangkat hari Minggu.

Tapi, aku pasti kembali.
Bersama rumah 13 hariku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s