Rasa

Akhir-akhir ini aku merasa mati rasa. Tidak, bukan pada kalian kawan. Pada kepekaanku. Terhadap sebuah rasa yang mematikanku kini, namun menghidupkanku dulu.

Pemandangan diluar masih sama. Sampah khas kota, lahan kosong sengketa yang ditanami warga, jembatan intan, dan besi besar bersepuh ini selalu mengingatkanku pada perjalanan impian. Yang tercapai dengan rasa yang kusertakan.

Kini aku mati rasa. Sebetulnya, aku lebih suka menyebutnya pindah rasa. Rasaku berpindah, ke berbagai dimensi hati secara sistematis. Rasa itu membentangkan kasihnya. Kini ia memiliki paradigma yang tidak sempit. Kini ia bertransformasi.

Kini aku ber-rasa luas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s