Adik

Adik, laki-laki satu-satunya. Santria namanya. Dia sangat… entahlah. Berkali-kali kasih sayang dicurahkan padanya. Padahal berapa kali pula dia menyakiti hati mama papa. Ya dia masih awal remaja..

Aku akan selalu bersedih mengingat jalan hidupku yang senantiasa dimudahkanNya, sementara dia seperti hanya dapat sisa. Aku tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya jadi dia. Hidup di lingkungan teman-teman yang tidak diperhatikan keluarga. Untuk mereka makan seadanya. Apalgi pendidikan, sekolah sampai SMP saja sudah luar biasa. Kebanyakan dari mereka putus asa. Lalu keluar menuju kebebasan semu semata. Hff santria..

Aku disini memiliki lingkungan yang selalu kondusif. Aku bahkan tumbuh menjadi orang yang selektif. Menilai orang berdasarkan standar prestatif. Jika terlihat kampungan, aku tidak ampun permisif. Pandanganku mungkin merendahkan, mungkin menyakiti hati kalian. Maaf.. Itu semua diluar kesadaran. Alam bawah sadarku menunjukkan demikian. Padahal, niat seperti itu sedikitpun tidak kepikiran.. Maaf..

San, plis. Bagaimana supaya kamu bisa sepemahaman denganku? Apa yang kamu inginkan dari seorang kakak sepertiku? Kakak yang tidak berguna, selalu menyalahkan dirimu. San.. Aku hanya inginkan kau bersikap sopan. Terhadap mama, papa, dan adek-adek kandungmu. Maaf aku memaksa.

San, semoga kali ini Allah menyadarkanmu akan tidak baiknya perbuatanmu itu.. Lebih lebih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s