Well..

Aku sudah tau, pada akhirnya, hatiku sendiri yang pasti akan terkoyak dengan sendirinya. Tanpa alasan dan tanpa pembelaan. Aku pun tau, posisiku ini siapa, dan maksud dari semua ini apa. Aku mungkin bodoh dalam pelajaran, bodoh dalam rumusan. Tapi aku cukup berpengalaman dalam membaca masa depan, khususnya yang berkaitan dengan perasaan. Perasaanku sendiri. Dan pastinya, aku sudah melihat sendiri berbagai sudut pandang.

Hari ini, aku bagai dipermainkan Tuhan dalam sebuah gejolak perasaan yang luar biasa. Luar biasa ekstrim. Dari pagi hingga pagi lagi. Dari yang sangat malas, sangat berat melepas papa pergi ke lampung, sangat kecewa karena tidak bisa mengantar surat izin skripsi dan harus menunda sampai senin, sangat kecewa juga karena sms dan email tidak dibalas dosen pembimbing, sangat benci karena masalah mbah bude terhadap keluargaku, sangat lemah karena membaca diary di tumblr yang berisikan rasa sakitku selama ini, lemah pula karena harus menjaga piket di KSE yang aku harus memaksakan diri untuk semangat, sangat lemas karena tiba-tiba aku dilecehkan di jalan gelap oleh orang brengsek, sangat sakit karena mendengar temanku hendak menemukan pasangan jiwanya. Bukan karena apa, tapi mungkin….entahlah aku tidak tau. Yang jelas aku (terlihat) bahagia dan menunjukan semua ini tidak menyakitiku sama sekali.

Walaupun menurutku unik, tapi tetap saja, aku agak merasa aneh diperlakukan begini.

Tapi, aku senang. Jujur, aku senang. Dengan Dia membuatku kacau begini, berarti dia memperhatikanku, bukan? Sangat memperhatikanku, sehingga mendinamiskan hariku dengan sangat baik.

Aku menikmati alurNya. Sangat menikmati. Aku heran dengan reaksi yang timbul dari satu peristiwa ke peristiwa lain. Dan takjub. Kok bisa? Padahal aku berpikir bahwa aku sudah sangat lihai dalam memainkan mimik dan ekspresi, baik secara lisan maupun non-lisan. Di chat misalnya. Tapi kok bisa, misalnya, kakiku dingin, timbul rasa sedikit takut kehilangan, ketika tau dia telah ditemukan dan (mungkin akan) menemukan seseorang yang dia cari? Sahabatku sendiri? Hatiku masih takut saat orang brengsek itu dengan seenaknya melecehiku? Reaksi konyol apa ini. Kok bodoh. Bah! Masih kurang lihai rupanya.

Ini bagian yang aku paling suka. Bagian dimana aku akan belajar memahaminya. Belajar bagaimana mengantisipasi. Belajar bagaimana tetap membuat suasana senetral mungkin. Belajar bagaimana hatiku sendiri tidak sakit akan semua hal ini. Meskipun, pasti dia yang menjadi korban terbesar dalam segala pertarungan dan pembelajaran di tiap detik waktuku. Karena, aku yang hanya hasil dari izinNya berada disinipun, merasa tidak ada lagi yang bisa dikorbankan. Aku tidak memiliki apapun, selain hati ini, untuk dikorbankan. Hanya hati. Dan hanya hatiku.

Well, mungkin aku harus mengubahnya. Bukan mengorbankan. Tapi menempanya. Batu intan mentah yang ditempa berkali-kali akan menjadi batu intan bernilai tinggi, bukan? Aha. Menempa hatiku sendiri. Menjadikannya kebal dengan berbagai serangan luar, tapi tidak membuatnya rusak. Malah ia akan semakin kuat dan tau bagaimana memulihkannya kembali.

Terima kasih, Allah. Terima kasih..

Masalah itu bener-bener bikin hidup gw jadi lebih berwarna. Penyikapan gw terhadap masalah-masalah bener-bener nentuin gimana hidup gw paska itu. Dan, bodohnya, gw suka salah dalam menyikapi dan akhirnya nyesel. Bukan disengaja, jelas. Tapi lebih ke gak tau apa yang mesti dilakuin. Gimana caranya supaya masalah ini selesai, dan semua orang bahagia dan ga beban. Minusnya, gw selalu lupa mempertimbangkan buat diri gw sendiri. Porsinya pasti gw jauh lebih sedikitin. Dengan pertimbangan, kalo kita yang agak sakit, kan bisa nyembuhin sendiri. Tapi kalo orang lain, kan susah minta maafnya atau bikin tetep kayak biasanya.

Kalo masalah sama hal-hal pribadi, gw udah biasa banget, kacau. Perempuan mana yang ga melibatkan perasaan dalam tiap keputusan yang diambilnya? Sematirasa-matirasanya, pasti ada perasaan yang bermain. Sejak SD gw udah mikirin satu hal. Enak ya jadi laki-laki.. Gw emang lebih suka berperilaku kelaki-lakian. Iya, dulu gw pingin jadi cowok, tapi physically. Makin kesini, gw tetep iri sama cowok. Tapi bukan lagi secara fisik. Tapi emotionally. Cowok gak main disana. Settingan mereka emang gak disetel buat melibatkan banyak perasaan. Mikirnya logis, cepet, untung-rugi, yang gak bikin sakit mereka bs jadi nangis berhari-hari. Gw iriiiii banget. Kalopun cowok ngerasa salah dalam ngelangkah, puter baliknya enak aja gitu. Kalo gw, beh, mesti jatoh bangun bgt. Gak nafsu makan, gak tidur, gak mau dirumah, banjir aja.

Pernah dalam satu titik, masalah gw bikin gw jadi mati rasa. Nonton film sedih ga ngefek. Liat anak2 jalanan ga ngaruh. Liat ibu marah2 ke anaknya cuek. Rasanya ga ada hentakan iba sama sekali. Datar, cuek, gak ada hati. Ternyata rasanya hampa. Kosong. Gw kayak orang setengah hidup setengah mati. Jiwa gw entah dimana. Dan baru gw sadar, gw hidup selama berbulan-bulan dengan rasa yang kayak gitu. Entah brp orang yang udah gw dzolimin ketika gw lagi mati-rasa itu..

Aku kudu piye..

Lost

I’m a quite puzzled how to step forward for my life after what i’ve been through on this path.

It feels like there is a dynamite inside your soul. But it can’t be explode, even it should be. Cause it will destroy yourself back.

I feel alone.
And I’m getting lost.

Kepingin buru-buru pulang secepetnya. Ngerjain skripsi, kembali pada dunia dimana aku dibutuhkan. Keseharianku yang dulu. Yang ga kayak skrg. Ga awut2an dan cuma seneng2 aja. Mau mama, papa, winda, tsalma, fathiya, bahkan santria. Mau ui. Mau gitar. Mau baca. Mau normal. Mau ga mikirin hal kayak gini. Gak mau gabut sambil nunggu jalan.

Aku akan membawa semua hal menjadi biasa saja. Seperlunya. Setakdir berjalannya. Tanpa menyertakan pamrih, untung-rugi, ga enakan, apapun yang keliatannya mesti melibatkan perasaan.

Jika bisa, ini akan menjadi kesulitan pertama di 2015.

Menuju akhir semester 7

STA udah sidang, Praktikum 2 udah implementasi, dan Kessos Industri nanti mau presentasi. Hampir selesai semua. Hampir loh ya. Soalnya belom UAS. Masih ada presentasi praktikum pula nantinya. Perjalanan sebenernya masih panjang, tapi seenggaknya one step closer lah

Semester yang bikin hopeless, bikin jatuh bangun, kadang cinta memuncak-kadang mengendur. Kadang ego naik tapi kadang males bahkan buat mikirin akibat dari malesnya ngambil bahan presentasi di it center. Full of huftness dan sekaligus happiness. Agak bangga gitu hampir selesai masa ini..

Ayo jangan hancurkan sisa sisa hari ini, Cha.

Seperti Biasa

Sama saja.

Gertak-gertak tungkai kaki yang cepat dihentakan, membuatnya terlihat tak tenang. Entah apa yang menunggunya, atau apa yang tidak disabarinya. Tangannya kemudian mulai saling menggenggam pelan, yang mulai melunturkan kesan ia tak sabar. Ada kesan yang ingin dilepaskannya. Ia sadar, sedari tadi perilakunya menyebarkan virus tak resah pula ke para wanita di sebelahnya, depannya, maupun serongnya.

Namun sepertinya gagal. Turun jiwa ke raga. Tak ada yang bisa menutupi perasaan resahnya. Secara tak sadar ia menutup mulutnya dengan satu genggam tangan yang dicorongkan ke mulut. Mengatupkannya, meniupkannya, matanya berlari namun tak melihat yang berarti.

Sementara itu, di sisi lainnya, satu deret kursi memperlihatkan keautisan akut. Semua menunduk khusyuk. Dalam sekali. Tenggelam dengan kecanggihan teknologi ala-ala borju. Pelindung layarnya pun sengaja diburam-buramkan yang padahal percuma juga. Privasinya akan terlihat juga ke sebelahnya. Tak akan sadar, pun sebelahnya mungkin tewas akibat angin duduk, seperti mbah uyutku dulu. Benda mati itu ter-hidup-i.

Satu orang nenek dengan gembolan keranjangnya, terjebak dalam komunitas metropolis itu, dan, memandang kikuk. Ia hendak bercengkrama. Baginya, siapapun itu, jika ada seorang di sebelahnya sekedar meladeni dan mendengarkan cerita sampahnya, akan menjadi pengobat kelelahannya berjualan hari itu.

Tapi ia menelan liurnya, sendiri.

Lain lagi di gerbong sana. Ekspresi lelah seorang pemuda berkemeja biru lepek, membuat seorang kakek harus rela mengalah menguatkan tegapnya berdiri di atas lapuknya usia. Ia tersenyum, entah apa yang dibayangkannya. Masa lalunya kah, memahami kah, atau kisah lucu apapun itu, aku tak tau.

.
.
.
.

Tak akan habis mengamati mereka semua. Tak akan pernah ada habisnya. Sampai kalut mengalahkan keinginanku mendalami keseruan ini.

Ah, ingatanku kembali lagi.
Kamu lewat lagi.

I’m sorry. its all that i can say. You mean so much and i fix all that i’ve done. if i could start again. i throw it all away. to the shadows of regret and you would have the best of me.

Agak sakit sih, ketika lo lagi susah2nya, tapi temen lo lagi tell others that she just get a new job. Astaghfirullah.. Temen gue yg baik hati, terlalu baik. Gue yang sensitif. Emang susah menciptakan keadaan senang diatas kesusahan. It’s really hard to convince myself being happy above my pain.

I’m a kinda low-temper, but easy to blow up also. My mood is depend on the environment, circumstance, and who’s together with me. I feel like so many changes i have. Since one year ago. Since he had lost his job. Since my family can’t through it all.

Pengakuanku

Keikhlasanku diuji kini. Sudah ikhlaskah aku membersihkan segala hal tentangnya? Ia mengujiku bukan dengan membuatku patah. Tapi justru memberikan penyangga baru. Yang siap menyanggaku.

Teka-teki apa lagi yang harus kupecahkan?

Aku belum siap sepenuhnya. Aku sadar, aku belum bersih benar. Setiap pertimbanganku, pasti ada namanya yang entah kenapa selalu muncul menghalangi. Aku ingin membuka hati, membersihkan diri, bukan memendam atau menguburnya, yang sewaktu-waktu tanah yang menutupinya akan mengikis, terkikis, dan muncul kembali ke permukaan. Muncul di waktu tak terduga.

Mungkin ini adalah salah satu waktu dimana ia muncul kembali. Aku masih belum bersih. Pengakuanku, ia masih bertahan disini. Tidak, aku yang menahannya. Aku yang membuatnya tetap tinggal. Walaupun aku tau, ia telah menempati ruang baru yang lebih memenuhi hatinya.

Ruang apa itu aku tidak ingin tahu.

Biarkan ia tetap terjaga disini. Menyingkirkan segala pejantan. Aku meng-kambinghitamkan-mu, tanpa ingin membuat kita bersatu. Tanpa tau, apakah kamu memanfaatkanku pula? Walau kau tau, aku selalu bersedia dikambinghitamkan. Olehmu.