Seperti Biasa

Sama saja.

Gertak-gertak tungkai kaki yang cepat dihentakan, membuatnya terlihat tak tenang. Entah apa yang menunggunya, atau apa yang tidak disabarinya. Tangannya kemudian mulai saling menggenggam pelan, yang mulai melunturkan kesan ia tak sabar. Ada kesan yang ingin dilepaskannya. Ia sadar, sedari tadi perilakunya menyebarkan virus tak resah pula ke para wanita di sebelahnya, depannya, maupun serongnya.

Namun sepertinya gagal. Turun jiwa ke raga. Tak ada yang bisa menutupi perasaan resahnya. Secara tak sadar ia menutup mulutnya dengan satu genggam tangan yang dicorongkan ke mulut. Mengatupkannya, meniupkannya, matanya berlari namun tak melihat yang berarti.

Sementara itu, di sisi lainnya, satu deret kursi memperlihatkan keautisan akut. Semua menunduk khusyuk. Dalam sekali. Tenggelam dengan kecanggihan teknologi ala-ala borju. Pelindung layarnya pun sengaja diburam-buramkan yang padahal percuma juga. Privasinya akan terlihat juga ke sebelahnya. Tak akan sadar, pun sebelahnya mungkin tewas akibat angin duduk, seperti mbah uyutku dulu. Benda mati itu ter-hidup-i.

Satu orang nenek dengan gembolan keranjangnya, terjebak dalam komunitas metropolis itu, dan, memandang kikuk. Ia hendak bercengkrama. Baginya, siapapun itu, jika ada seorang di sebelahnya sekedar meladeni dan mendengarkan cerita sampahnya, akan menjadi pengobat kelelahannya berjualan hari itu.

Tapi ia menelan liurnya, sendiri.

Lain lagi di gerbong sana. Ekspresi lelah seorang pemuda berkemeja biru lepek, membuat seorang kakek harus rela mengalah menguatkan tegapnya berdiri di atas lapuknya usia. Ia tersenyum, entah apa yang dibayangkannya. Masa lalunya kah, memahami kah, atau kisah lucu apapun itu, aku tak tau.

.
.
.
.

Tak akan habis mengamati mereka semua. Tak akan pernah ada habisnya. Sampai kalut mengalahkan keinginanku mendalami keseruan ini.

Ah, ingatanku kembali lagi.
Kamu lewat lagi.

I’m sorry. its all that i can say. You mean so much and i fix all that i’ve done. if i could start again. i throw it all away. to the shadows of regret and you would have the best of me.

Agak sakit sih, ketika lo lagi susah2nya, tapi temen lo lagi tell others that she just get a new job. Astaghfirullah.. Temen gue yg baik hati, terlalu baik. Gue yang sensitif. Emang susah menciptakan keadaan senang diatas kesusahan. It’s really hard to convince myself being happy above my pain.

I’m a kinda low-temper, but easy to blow up also. My mood is depend on the environment, circumstance, and who’s together with me. I feel like so many changes i have. Since one year ago. Since he had lost his job. Since my family can’t through it all.

Pengakuanku

Keikhlasanku diuji kini. Sudah ikhlaskah aku membersihkan segala hal tentangnya? Ia mengujiku bukan dengan membuatku patah. Tapi justru memberikan penyangga baru. Yang siap menyanggaku.

Teka-teki apa lagi yang harus kupecahkan?

Aku belum siap sepenuhnya. Aku sadar, aku belum bersih benar. Setiap pertimbanganku, pasti ada namanya yang entah kenapa selalu muncul menghalangi. Aku ingin membuka hati, membersihkan diri, bukan memendam atau menguburnya, yang sewaktu-waktu tanah yang menutupinya akan mengikis, terkikis, dan muncul kembali ke permukaan. Muncul di waktu tak terduga.

Mungkin ini adalah salah satu waktu dimana ia muncul kembali. Aku masih belum bersih. Pengakuanku, ia masih bertahan disini. Tidak, aku yang menahannya. Aku yang membuatnya tetap tinggal. Walaupun aku tau, ia telah menempati ruang baru yang lebih memenuhi hatinya.

Ruang apa itu aku tidak ingin tahu.

Biarkan ia tetap terjaga disini. Menyingkirkan segala pejantan. Aku meng-kambinghitamkan-mu, tanpa ingin membuat kita bersatu. Tanpa tau, apakah kamu memanfaatkanku pula? Walau kau tau, aku selalu bersedia dikambinghitamkan. Olehmu.

Praktikum 2

Hamdalah ya Allah…
Praktikum 1 dulu gue bener2 nggak ngerti lagi. Jiwa raga batin hati gue rasanya kayak terpaksa dan….dipaksakan. Tuntutan sks. Gak enak karena lagi GUIM di Indramayu terus jadi gak sempet ngurusin praktikum 1. Akhirnya karena ada Ela dan Dani yg baik mau gue tebengin, akhirnya dapet lembaga yang….gak gue banget. Meskipun gue banyak belajar dr PPSW tapi tetep aja, gak gue banget. Ekonomi gitu.

Di Praktikum 2 yang 4 hari ini, gue berasa kayak doa gue dikabulkan. Di Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bogor (BPBD). Walaupun jauh banget, ongkos banyak, tapi…. Gue suka… :3 Gue kan emang minat di bencana atau nggak lingkungan. Ternyata Allah memudahkan jalan gue disini. Alhamdulillah bisa masuk langsung tanpa surat dulu. Surat ke Kesbangpol dan Linmas Bogor boleh nyusul. Mereka welcome banget pula. Pak Toni, Pak Jokowi, sama Pak Adam, udah kayak cees sama kita. Gue, Retno, Fathia, sama Ifa yang nyusul ngerasa nyamaaaaan banget. Hari apa kesana lupa besoknya langsung diajak ke Gunung Geulis buat projek Desa Tangguh.

Dan sekarang, masuk ke minggu ke dua gue di BPBD gue lebih menikmati lagi. Dapet temen baru dari temen temen fasilitator dan co fasilitator Desa Tangguh. Masyarakatnya juga seru. Aparatur desa sama pejabat setempat semuanya welcome. Aahhhh suka banget!! :’) Suasana ini bikin gue pingin nangis terus karena bahagia. I really enjoy this feeling.

Makasih Ya Allah. Mudahkanlah langkah hamba ke depan. Lancarkanlah.. Aamiiin..

Dulu, aku sempat berdecak saat seorang teman mendeklarasikan dirinya,

“Gue maunya jadi relawan di sebuah organisasi internasional. Gak nikah juga gapapa.”

Gila! Ada manusia yang seperti itu. Mana mungkin? Hidup sendiri menghabiskan waktu hingga akhir usia, sendiri. Tanpa pasangan, tanpa anak, cucu. Apalagi.

Tapi pandanganku sedikit berubah saat ini. Entahlah. Menurutku, jika mereka memang mau memilih jalannya sendiri seperti itu, itu tidak menjadi masalah besar. Bisa jadi dia lebih banyak memberikan manfaat dibandingkanku. Apa aku juga sanggup nanti hidup dalam kekangan ‘keluarga’?

Aku malas memikirkannya. Malas juga melihat kenyataan yang seperti ini.

 

Kini

Dan perlakuan ini menjadi sebuah energi baru, untuk tinggal atau bergerak.

Dan aku memilih melangkah.. Meninggalkan dan membersihkan semuanya, sekecil-kecilnya.

Kini jelaslah sudah.
Sepotong hati yang baru, sudah siap melanglang buana..

Bingung jeh.. Piye ki nolaknya? Di satu sisi pingin bgt jalan2. Di sisi lain, uangnya buat keperluan lain, trus praktikum gimandose… Trus kalo kambuh sakit…. Pasti gak boleh sih ini ama mamah. Hhhhh gatau deh puyeng eyke