0

Kini

Dan perlakuan ini menjadi sebuah energi baru, untuk tinggal atau bergerak.

Dan aku memilih melangkah.. Meninggalkan dan membersihkan semuanya, sekecil-kecilnya.

Kini jelaslah sudah.
Sepotong hati yang baru, sudah siap melanglang buana..

Status
0

Bingung jeh.. Piye ki nolaknya? Di satu sisi pingin bgt jalan2. Di sisi lain, uangnya buat keperluan lain, trus praktikum gimandose… Trus kalo kambuh sakit…. Pasti gak boleh sih ini ama mamah. Hhhhh gatau deh puyeng eyke

0

Pecicilan

Ramadhan tahun ini, sama kayak tahun sebelumnya. Ajang reuni. Ajang temu kangen, penguatan relasi, keakraban, simbol prestige, semacam ada konstruksi sosial yang mengharuskan adanya bukber alias buka bersama dengan kelompok-kelompok yang pernah atau sedang disinggahinya. Entah akrab maupun formalitas. Ada 3 jenis orang kalo udah begini. 1. Orang yang heboh, mau ngurusin, ngomporin. Tipe aktip. 2. Tipe oportunis. Orang yang tengah-tengah, antara mau ngeramein sama males. Dia kalo dtg berarti ada perlunya. Kalo nggak yauwes. Yang jelas kehadirannya diperhitungkan dalam indikator deket nggaknya sebuah klp itu. 3. Tipe males. Dia yang gak respon samsek entah itu karena gapunya duid, males, menjauh dari peradaban, pingin dibilang misterius, gak punya pulsa, dll. Yang jelas dia gak respon. Tipe ini yang cukup nyusahin.

Gue gak bilang salah satu di antara 3 itu ada yang paling baik, karena gw yakin tiap orang ada fungsinya masing-masing dalam dinamika kelompok sosial. Ya sama, gue juga gitu. Kadang yang aktip, kadang yang oportunis, kadang yang no respon. Tapi ternyata, setelah gue alamin, gue ngerasa jadi orang yang cenderung di tipe 1: kegatelan ngurus beginian. Haha. Entahlah, gue emang sanguinis sok koleris gitu. Bahkan gue udah bikin agenda di pasca lebaran nanti buat mengunjungi beberapa dosen, guru, sama temen lama. Gatel gue kalo lost contact sama orang. Enak aja nyambung silaturahmi itu. Banyak wawasan. Yaa some people memilih menutup diri. Itu pilihan. Terserah. Yang jelas, gue berfungsi membuka pintu itu. Siapa sih yang gak seneng ketika dikunjungi? Gue si ngerasa seneng banget.

Pengalaman ini berdasarkan bbrp hal. Ketika gue msh semester awal, gue kaget kedatengan 3 tmn smp cowok yang notabenenya “ikhwan out of the box”. Hahaha. Kaget dan seneng. Kenapadari sekian bnyk temen smp mereka kepikiran buat k rumah gue? Disitu gue ngerasa dihargain bgt. Mungkin buat mereka gak seberapa atau asal nyeblak ae, tapi bagi gue ini menyenangkan :) makanya kalo di betawi tuh tamu itu raja. Ambil segala yang dipunya. Keluarin! Tumpe-tumpe dah. Karena mereka rela menyediakan wktunya buat sekedar inget kalian dan melaksanakan niatan itu :)

Gue sebel sih ketika ada di posisi 1 dan mesti berhadapan dengan mayoritas manusia tipe 2 dan 3. Eneg. Kayak gue noraaak gitu mau bgt ketemu. Iyuwh. pdhl apa salahnya sih nyambung silaturahmi? Tp setelah merasakan tipe 2 dan 3 hehe ternyata yaa kadang mau gak mau mesti gitu krn berbagai alasan. Mungkin ketika gue ada di.posisi lain, gue jadi rada peka aja. Yaa saling menghargai aja kali ya. Seenggaknya, respon. Bisa apa nggak. Karena ngurus beginian tuh cuapek dan ribet rek! Tergantung scopenya siih haha. Pecicilan bet ya gue.

Yasudah selesai coplas ceplos dari akiyuw. Tataw~

0

Ichanya capek ya Allah. Dikira mureh ini pasti.

Capek ngurus yang beginian. Ichanya mendingan datengin ke rumah anak yg dipengen ketemuin dibandingkan mesti bikin grup whatsapp yang berisi orang2 yang sudah tidak berniat bertemu lagi. Beneran deh.. Huhu

Padahal niatnya mau nyambung silaturahmi. Tapi yang minat ya segelintir orang. Apalagi yang respon. Seenggaknya gitu kasih kabar. Hiks. Malesin bgt dah. Nyeselll malu sebel capek gedeg mlintir

0

Ah mau keluar dr depok dalam jangka waktu lama. Bosan. Mau keluar dari subsistem2 ini. Bosan. Mau tau gimana rasanya pergi terus pulang. Sekalinya guim malah gitu sih. Hhh

0

Grusak grusuk. Bergerak tapi halus. Terlihat lihai dan memiliki jam kerja yang banyak. Okay

Tapi, hey. Saya juga pernah jadi siswa. Kamu gak bisa menipu daya. Bakal sia-sia mencoba segala upaya.

Tapi, saya kasihan sama kamu dan keluargamu. Jadi apa boleh buat, peringatan saja. Ini pertama dan terakhirnya saya ingatkan dan saya berikan toleransi. Hahaha 

Aside
0

Penyakit yang ada di diri gue kayaknya gak akan bisa sembuh, entah sampai kapan.

Indikasi ini semakin menguat. Gue jadi sering tiba-tiba pusing sampe muter karena nahan berbagai pikiran-pikiran. Nangis. Tiba-tiba (mau) teriak. Tiba-tiba ngeluarin air mata. Entah di kereta, di angkot, di kamar, lagi cuci piring, lagi jalan kaki. Perasaan merendahkan diri sendiri ini kayaknya nyakitin banget, sampe-sampe gue kehilangan kepercayaan diri gue segininya. Gue ngerasa gak bisa apa-apa. Gak bermanfaat buat siapa-siapa. Dan, gak ngerti apa-apa.

Sekarang gue berpegangan sama satu tali. Kalo tali ini lepas atau sedang tertiup angin, rasanya guepun ikut terkatung-katung. Gue sadar, gue gak bisa gini terus. Gue berpegangan pada tali yang salah. Berharap pada yang bukan Maha Pengharapan.

Ini bukan salah siapa-siapa. Gue yang membiarkan semua terjadi. Membiarkan itu terjadi ke diri gue. Otoritas ini penuh ada di gue.

Saat ini, otak gue tertutup sama aturan rigid, norma yang berlaku, tapi sebenernya gak sesuai pun gak masalah. Banyak yang kayak gitu. Banyak yang ngelanggar ‘aturan’ tp tetep bisa hidup. Bisa sukses. Gue jadi susah berpikir jernih. Iya, masalah gue disitu. Gue bahkan gak punya ruang dan gak memberikan kesempatan pada diri gue sendiri, buat berpikir jernih. Bebas dari ke-mereka-an. Cuma ada gue dan gue. Gue. Seandainya.. seandainya waktu bisa diulang, gue mau memilih buat gak tau apa-apa. Mau lebih jadi diri sendiri. sekarang ketika gue sadar gue terlambat jauh, gue gak tau mau ngapain. Gue bingung yang mana yang bener dan yang mana yang salah. Apa gue salah? Gimana sih seharusnya? Nanti bakal nyesel gak ya? Semua terlalu dipikirin. Ujung-ujungnya, gue sakit sendiri. makanya gue cenderung introvert, sejak di perkuliahan ini. Beda banget sama dulu pas SMP atau SMA. Beda banget

Kapan ya bisa berakhir? Sampe kapan ya?

0

Rasa Sepeda

Kangen berduaan sama sepeda dengan hati yang ringan kayak dulu nih.

Dulu kayaknya, kalo naik sepeda itu bawaannya seneng, bahagia, tenang, enjoy, apalagi kalo sore. Waktu kebanggaan. Kalopun pulang cepet, nbakal disore-sorein biar ketemu sinarnya. Gak ada men yang bisa ngalahin cahaya matahari yang menyerobot masuk ke dalam celah-celah ranting, batang, maupun dedaunan pohon-pohon. Surga dunia.

Selalu bersyukur sama Allah dikasih kampus yang begitu damai. Banyak tempat buat sembunyi. Sembunyi dari keramaian jalan besar maupun bising orang lewat naik motor atau mobil. Ah, pokoknya menyenangkan.

Dan sekarang harus kembali merindukan berdua dengannya. Semester 6 ini begitu menyiksa. Terkadang harus praktikum ke Kalimalang yang harus naik kendaraan umum. Kadang juga harus ngajar yang juga pake angkot. Kadang juga cuma ke kampus tapi capeknya gak ketulungan. Males. Huaaaa kembalikan masa laluku yang damai!

Tapi life must go on. Rindu kan semakin tertahan semakin besar. Semakin rindu tertahan, semakin besar kita menghargai dan menikmati kilas waktu-waktu yang pernah kita lalui. Dan jadi berharap bisa nikmatin kayak gitu lagi.

 

0

Cerdas dan Tidak

Ada sedikit rasa menyesal, ketika melihat seseorang cerdas dengan mudahnya. Anugrah Tuhan yang membuatnya dengan sendirinya cepat menyerap segala hal yang dia ketahui. Sesalku sedikit pada keadilan Tuhan. Awalnya ini terasa tidak terlalu mengganggu. Tidak begitu aku risaukan. Hingga aku dihadapkan dengan kenyataan. Bahwa kecerdasan itu mengalahkan kerajinan. Mengalahkan kepintaran. Orang cerdas itu diatas segalanya. Kaum papa seperti aku ini terkadang ingin mengangkat intelektual diri, namun selalu lemah di daya tangkap dan daya ingat. Apa memang dunia ini hanya akan dikuasai oleh mereka yang cerdas? Mereka yang berani menentang aturan kaku? Aku yang selalu berusaha ‘lurus’ melakukan apapun, merasa gagal dan salah. Dan kalah. Sekuat apapun dayaku untuk menjadi cerdas, aku tidak akan pernah mampu. Hanya mereka yang cerdas yang berkesempatan berada di atas sana. Berkilau. Walaupun terliaht menunduk, merendah, menyepelekan, berbuat di luar aturan. Rajin itu hanyalah usaha untuk berpindah strata, bukan untuk menjadi pemimpin kasta. Apakah kecerdasan itu bisa dipelajari dan bisa berkembang dengan rajin? Entahlah, rasanya masih sulit untuk menerima sistem yang berbeda ini.

Aku hidup dalam bayang-bayang aturan kaku. Sementara mereka menyebut itu mainstream lah, sok lurus lah, sok bener lah. Padahal jika mereka mau memahami, kaum seperti aku ini hanya ingin menjadi baik dengan cara yang telah ada. Kami ini adalah produk dari mesin sistem pendidikan disini. Sejujurnya, kami iri dengan kalian yang tanpa rajin pun kalian tetap ada di strata teratas. Tanpa rajin pun ilmu akan terserap lebih cepat. Tanpa rajin pun, kalian bisa memakai ilmu kalian lebih luwes dan praktis. Kami harus berusaha lebih giat untuk duduk di paling depan, untuk mencatat hal yang kalian bilang tidak penting namun menjadi berharga untuk menjaga ingatan kami, untuk terlihat bermanfaat dengan mengikuti berbagai organisasi yang bagi kalian hanya membuang waktu, untuk mengerjakan tugas secepatnya di awal.

Jangan anggap kami kaku, kami hanya tidak tahu lagi bagaimana caranya. Kalian yang memang dari sananya sudah cerdas, jangan sepelekan kami. Jangan pula mengajak kami berdiskusi hanya untuk membuktikan bahwa kalian lah yang pasti akan selalu menang. Kami sudah tahu. Kami sudah sadar diri.

Aku takut ini akan membunuhku pelan-pelan.

Rasa hina ini menjalar ke seluruh tubuhku. Perasaan serba salah ini menghantui setiap gerak langkahku. Setiap gerak langkah, Setiap gerak langkah. Aku menjadi orang yang senggol-jatuh tiba-tiba. Menyenggoljatuhkan diriku sendiri. Bukan oleh siapa-siapa. Tapi dari aku sendiri. Aku.

Hingga nanti tubuh ini hanya tinggal dibaluti rasa mati dan sok-ada.

 

 

Kamar, 27 Mei 2014.